Vaksin Eksperimental Jadi Pilihan Cepat

Selasa, 07 Juli 2020 00:00

Merasa pengembangan vaksin terlalu lambat, sejumlah peneliti dari Harvard mengembangkan vaksin untuk dipakai kalangan sendiri. Elite Rusia juga telah mendapatkan vaksin eksperimental yang belum lolos seluruh uji klinis.

______________________

Pengembangan vaksin Covid-19 terus berlangsung dengan harapan dapat menyelesaikan krisis yang terjadi akibat pandemi selama empat bulan terakhir. Namun, sejumlah orang di Amerika Serikat dan Rusia nekat mengambil risiko untuk menggunakan vaksin yang belum teruji demi menangkal risiko terinfeksi virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga akhir bulan ini telah melacak 164 pengembangan kandidat vaksin Covid-19 di seluruh dunia. Sebanyak 25 di antaranya sudah memasuki fase uji klinis terhadap manusia.

Dari 25 tersebut, sebanyak 6 kandidat vaksin telah mancapai fase akhir, yakni fase III. Uji klinis fase III akan menentukan efikasi vaksin terhadap sampel yang terdiri dari puluhan ribu orang partisipan.

Hasil uji klinis fase III ini diperkirakan baru usai pada akhir tahun 2020 atau awal 2021. Kandidat vaksin bernama ChAdOx1 buatan University of Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca bahkan mengatakan dapat menghasilkan vaksin darurat pada Oktober 2020 ini. Pengembangan vaksin Covid-19 ini memang tergolong cepat.

Namun, bagi sebagian pihak, proses penelitian dan pengembangan vaksin untuk menangkal virus SARS-CoV-2 ini masih terlalu lambat.

Sekelompok peneliti dan sukarelawan yang terafiliasi dengan dua perguruan tinggi terkemuka AS, Harvard University dan Massachussets Institute of Technology (MIT), memilih untuk membuat sebuah kandidat vaksin secara independen dan mengujicobakannya kepada diri sendiri, tanpa  perlu persetujuan dewan etik.

Kandidat vaksin ini didesain pakar genetika Harvard University, Preston Estep, yang juga Direktur Program Penelitian Harvard Personal Genome.

Salah satu yang telah mencoba vaksin eksperimental ini adalah pakar genetika terkenal dari Harvard University, George Church. Kepada MIT Technology Review, Church mengatakan bahwa ia telah menghirup vaksin tersebut—vaksin ini adalah vaksin nasal, dimasukkan ke tubuh lewat lapisan muksa hidung—pada awal Juli ini. Vaksin terdiri dari dua dosis yang harus dihirup selang satu pekan.

Ia menilai, vaksin yang dibuat oleh mantan mahasiswanya tersebut sangat aman. ”Saya pikir, ancaman tertular Covid-19 lebih besar dibandingkan risiko dari vaksin ini. Coba lihat betapa mudahnya virus ini menular,” kata Church.

Kelompok riset ini bermula pada Maret 2020 ketika Estep menghubungi beberapa koleganya untuk membuat vaksin sendiri. Kelompok yang diberi nama Rapid Deployment Vaccine Collaborative atau Radvac ini kemudian membuat sebuah vaksin dengan formula yang sederhana.

Vaksin ini adalah vaksin subunit, artinya vaksin ini terbuat dari sejumlah peptida yang menyusun struktur protein pada virus SARS-CoV-2. Peptida ini kemudian dicampur ke dalam cairan chitosan untuk bisa menembus membran mukosa pada hidung.

Kini Estep mengatakan, sudah lebih dari 70 orang yang telah dikirimi vaksin tersebut oleh Radvac.

”Kami memberikan sebuah alat yang dapat mengurangi resiko infeksi. Kami tidak lantas menyuruh mereka tidak perlu mengenakan masker, tetapi dengan vaksin ini artinya ada layer pelindung tambahan,” kata Estep.

Inisiatif Estep dan Radvac juga mendapat kritik. Vaksinolog George Siber mengatakan, ada kemungkinan bahwa vaksin yang dibuat oleh Radvac dapat berefek samping memperparah gejala Covid-19 apabila terinfeksi. Pakar bioetika New York University, Arthur Caplan, pun menyatakan hal senada.

Mengenai kritik ini, Church menilai, formula vaksin Radvac yang sederhana berkemungkinan besar aman bagi manusia. ”Risiko yang lebih besar yang dapat terjadi oleh vaksin ini adalah bahwa vaksin ini tidak efektif,” kata Church.

Estep mengatakan, saat ini, pihaknya masih meneliti apakah vaksinnya benar-benar berhasil meningkatkan kekebalan terhadap Covid-19 dan belum siap untuk memublikasikan hasilnya.

Vaksin untuk elite Rusia

Percobaan terhadap vaksin eksperimental juga dilakukan di Rusia. Pada awal pekan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa para elite politik, bilioner, dan pejabat pemerintahan Rusia telah mendapatkan vaksin yang dikembangkan oleh laboratorium Gamaleya Institute of Epidemiology dan Microbiology.

Laboratorium milik negara ini disebut didanai oleh sovereign wealth fund atau dana abadi milik Pemerintah Rusia, Russian Direct Investment Fund (RDIF).

Kepala RDIF Kirill Dmitrief mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya telah menerima injeksi vaksin tersebut. Sejumlah pejabat tinggi di berbagai perusahaan besar Rusia juga telah mendapat vaksin tersebut.

Gamaleya Institute mengatakan bahwa vaksin yang diciptakan tersebut juga diujicobakan kepada direkturnya dan juga tim penelitinya. Sejumlah karyawan dari Bank BUMN Rusia, Sberbank, juga ikut serta dalam uji coba vaksin milik Gamaleya tersebut.

Sejumlah petinggi dari perusahaan aluminium raksasa dunia, United Company Rusal, juga disebut telah menerima vaksin tersebut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tidak mengetahui siapa saja secara persis yang telah menerima vaksin tersebut. Namun, ia memastikan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak mendapatkan vaksin tersebut.

”Mungkin bukan ide yang bagus untuk menggunakan vaksin eksperimental kepada kepala negara,” kata Peskov. (Sumber: kompas.id)


 
Telah dikunjungi sebanyak : 87 kali
Share :
;